SURAT DARI ROSULULLAH


Selepas Isya ku duduk diruangan tamu sambil membaca kiriman whatsApp dari teman teman, mulai kiriman dari group yang bikin senyum sendiri, group kerja yang banyak tugas yang mengalir seperti air sungai yang deras, sampai Jalur pribadi, satu demi satu kubaca, tanpa ada yang tertinggal, semua kubaca sampai tidak ada lagi yang tersisa, tidak terasa sudah satu jam duduk diruang tamu, rasa kantuk mulai menjalar ke pelupuk mata, hingga mulut memberi isarat dengan menguap berulang ulang..
tiba tiba terdengar ketukan pintu..
ASSALAMUALIKUM…
WAALAIKUM SALAM WR WB .. spontan kujawab..
maaf om mengganggu sebentar, ini ada kiriman surat..
oh tunggu.!!. ku buka pintu lalu ku ambil surat dari orang tersebut sambil kubaca kalimat diamplop luar, aku terperangah dan terbelalak, lalu melirik kepada tamu yang memberikan surat, aneh tamu tidak ada lagi, menghilang atau mungkin sudah pergi tanpa pamit…

aku kembali ke tempat duduk sambil mengamati surat tersebut, kembali badan gemetar dag..dig..dug..dub.. didada semakin keras, sedetik kemudian, ritmenya terus meningkat cepat. Kuhela nafas dalam-dalam untuk melegakan rongga dada yang serasa ditohok teramat keras hingga menyesakkan.
kubaca lirih amplop tersebut
SURAT DARI ROSULULLAH
untuk Zaenudin Lamokot…

pelan pelan kubuka surat tersebut :
“Semoga Keselamata, rahmat dan bekah ALLAH menyertaimu wahai saudaraku,
bagaiman kabar saudara saudara muslimmu hari ini ??
sudahkah kau membahagiakan ibu dan bapamu??


belum kuteruskan membaca, mataku tidak terasa berkaca kaca dan berbisik lirih :

Wahai Rasul!
sungguh diri ini dan sebagian saudara-saudara muslimku yang kau rindukan ini sedang sakit parah.
Dunia ( Materi ) sudah meredupkan cahaya iman. Membutakan mata hati..
Menggiring kami memasuki lobang-lobang kehinaan, kadang kami bangga dengan menceritakan indahnya kemaksiatan, bahkan diantara kami ada ya menjadi penantang yang nyata ( melanggar ) bagi perintah perintah ALLAH yang telah menciptakannya dari setetes air mani yang hina, bahkan menjadi menjijikan jika tumpah ke bumi,
tak ada seorangpun yang mau memungutnya..

diantara kami sudah begitu banyak yang tidak lagi peduli terhadap saudaranya sendiri, miris rasanya melihat kemiskinan diantara gelimangnya kemewahan..
merintih hati ini ketika melihat mereka yang membantu saudara muslimnya dengan meminta bunga lebih tinggi, seakan akan ALLAH maha pemberi rezeki tidak sanggup membalas kebaikanya…seakan akan ALLAH tidak sanggup membalas dengan seribu kebaikan..

Duhaii Rasul!.
orangtua yang harus dimuliakan,
orangtua yang harus ditinggikan derajatnya,
orangtua yang harus dijadikan keramat hidup, seolah olah hanyalah symbol dalam bingkai kalimat agung tanpa makna.
orangtua yang harus didengar setiap ucapanya, diikuti nasihatnya,
kini seakan akan menjadi pembantu pribadi tanpa upah, disakiti bahkan
dizhalimi,..
sesunguhnya orangtua mendidik dan menyekolahkan kami, agar kami tahu cara berbuat baik dan berbakti pada mereka,, tetapi kami malah sering menjadi sok pintar dan membantah setiap ucapanya,
Ya ALLAH beri kami kesempatan untuk membahagiakan ibu bapak kami,
sampai saat ini, sampai ibu bapak kami diusia tepi zaman, bahkan ranting sudah jatuh dan tinta sudah tertulis, ada diantara orang tua kami sudah engkau panggil, kami belum sanggup membahagiakan mereka…
YA ALLAH ampuni dosa kami dan beri tahu kepada kami cara berbuat baik dan berbakti kepada orangtua kami..

hatiku menjerit…
Mataku kembali tertuju kepada kata kata dalam surat:
sudah benarkah Shalatmu??..
aku selalu merindukan dan mencintai ummatku, tak kenal lelah...
Masihkah kau merindukan dan mencintaiku i?

Air mataku terasa menetes membasahi pipiku, semakin kuteruskan membaca kalimat-kalimatnya, semakin deras air yang keluar dari sudut mataku.



Duh Rasul!
Benarkah kami yang kau rindukan?
Sedangkan shalatmu dan shalat kami seperti langit dan bumi.
Kami lalai dalam zikir kami,
bagaimana mungkin kami berdzikir dalam kelalaian kami.
Bacaan Qur’an kami juga hanya sampai di makhraj hamzah,
terhenti disitu jarang menembus kulit hati kami. Mata kami sering basah,
menangis, tapi bukan karena rindu kami kepadamu Ya Rasul..
Kami hanya menangis saat kehilangan dunia kami. Kami pun bersedih, tapi bukan
karena ibadah-ibadah yang luput terlewati.


Wahai Rasul!
Alangkah cintanya engkau kepada kami, umatmu yang kini sering melupakanmu.
Padahal nanti saat manusia- manusia saling menyalahkan, saat semua orang dan bahkan para Nabi pun mementingkan diri sendiri agar selamat dari azab Allah
sambil mengatakan “Nafsi-nafsi”(diriku-diriku)=
Lisanmu yang mulia itu malah mengulang-ulang kalimat:
“Ummati-Ummati” (Umatku- umatku).
Hati siapa yang tak akan luluh bila mengetahui cintamu kepada umatmu?
Air mata siapa yang tak menetes jika mengingat perjuanganmu?
Kepala yang mana yang tidak tertunduk malu mengenang sejarah hidupmu?
Kecuali hati yang telah telah tertutupi dosa mata yang silau dengan dunia,
dan kepala orang-orang pongah yang tak tahu diri.

Wahai Rasul!
Masih ingat dalam ingatanku engkau pernah bersumpah:
“Demi (tuhan) yang jiwaku beradadalam kekuasaan-Nya. Tidak sempurna iman seseorang diantara kamu sampai aku dicintainya melebihi cintanya kepada anaknya,
orang tuanya, dan manusia seluruhnya.”
Maafkan kami Wahai Rasul! Maafkan kami wahai kekasih ALLAH...
SEMOGA KAMI BISA LEBIH BAIK DALAM MENCINTAIMU.. ya ROSULULLAH


Cukup sudah. Aku tak lagi sanggup meneruskan rentetan kalimatnya hingga habis. Masih tersisa panjang isi surat dari Rasulullah, namun baru yang sedikit ini saja, aku merasa tidak kuat. Aku tidak sanggup meneruskan semuanya karena sepertinya Rasulullah sangat tahu semua kesalahan dan kekuranganku, dan jika kulanjutkan hingga habis, yang pasti semuanya tentang aku, tentang semua kesalahan dan dosa-dosaku.
Kuhela nafas panjang berkali-kali, tapi justru semakin sesak.
Tiba-tiba pandanganku menjadi gelap, entah apa yang terjadi...
Sudah tibakah waktuku menghadap Ilahi dengan segala dosa yang belum termaafkan?
padahal aku belum memperbaiki semua kesalahanku hari ini dan hari-hari sebelumnya,
ya ALLAH ampuni hamba yang berlumuran dosa,
beri hamba kesempatan utk menjadi manusia yang bermanfaat bagi sebanyak banyak manusia..

Pandanganku kini benar-benar gelap, pekat sampai tak ada lagi yang bisa terlihat.
Hingga ... terdengar suara lirih ditelingaku..
ayah ayah bangun,
tubuhku sungguh tidak lagi Mampu bergerak
samar samar lagi terdengar
ayah ayah bangun..
terasa tubuhku terguncang keras,
lalu mataku terbuka dan melihat sekeling..
Ya tuhan…
ternyata aku tertidur pulas dikursi tamu
dan bermimpi menerima surat dari rasulullah..

                                                      ___oooOOOooo___




Sebelum Mentari bersemayam dalam senja
kuharap ada jejak jingga yang membekas dalam kesan..
agar kenangan yang berhembus selalu terjaga dlm kesan.. by LAMOKOT




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *